"
 
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia - Pers Release Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Dalam Rangka Hari Tuberkulosis Sedunia.
Pers Release Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Dalam Rangka Hari Tuberkulosis Sedunia.
Tanggal: 24/03/18
Topik: Medis


Masalah Tuberkulosis di Indonesia Meskipun hanya memiliki jumlah penduduk sekitar 261 juta, Indonesia menduduki peringkat ke-2 di dunia dalam jumlah kasus tuberkulosis (TB), baik dalam jumlah keseluruhan kasus maupun kasus baru, mengalahkan Cina yang memiliki 1,4 milyar penduduk (peringkat ke-3).

sebelumnya. Indonesia bersama 5 negara lain termasuk negara terbanyak dengan kasus
MDR yang tidak diobati. Negara kita bersama 13 negara lain memiliki kombinasi 3 masalah yaitu TB, TB MDR, dan TB-HIV

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
Dokter paru sejak awal kelahirannya tidak pernah bisa dipisahkan dengan perjuangan
melawan TB. Bahkan sejak masa pendudukan Belanda, dokter paru yang saat itu disebut
Long-Arts sudah berjuang menangani TB di sanatorium-sanatorium dan biro konsultasi yang
didirikan Centrale Vereeniging voor Tuberculose Bestrijding (CVT) yang di kemudian hari
bernama Stiching Centrale Vereeniging tot Bestrijding der Tuberculose (SCVT). Consultatie
Bureaux diubah menjadi Balai Pengobatan Penyakit Dada (BPPD) dan dokter paru
melanjutkan perjuangannya di sana. Sampai kini, dokter paru tetap berjuang memberantas TB

Penemuan Kasus sebagai Langkah Awal Pemberantasan TB
Tanpa penemuan dan pencatatan kasus TB yang optimal pengentasan TB sulit dicapai.
Berdasarkan data Rises Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 dan Balitbangkes didapatkan bahwa sebagian besar masyarakat sudah mengetahui gejala TB (78%). Masyarakat juga tahu TB dapat disembuhkan (73%).

Namun sayang, banyak yang tidak tahu bahwa pengobatan TB bisa didapatkan secara gratis
(81%). Sebagian besar orang dengan TB ke fasilitas kesehatan non-pemerintah saat awal
mencari pertolongan (74%). Sayangnya, 52% orang dengan gejala TB langsung ke apotik dan
toko obat untuk membeli obat TB lalu diminum tanpa melalui prosedur diagnosis dan pengobatan yang benar. Obat hanya diminum 1 atau 2 jenis, lalu dihentikan dalam beberapa
minggu saat gejala mereda dan terasa membaik.
Kasus yang tidak jelas diagnosis ini, atau dibuat diagnosisnya tapi tidak secara benar, tidak
tercatat, apalagi tidak diobati dengan benar ini dikuatirkan beberapa waktu kemudian
menyebabkan kondisi semakin parah. Yang sangat berbahaya adalah jika kuman TB di tubuh
pasien tersebut berubah sifat menjadi kebal obat / MDR dan terus menulari keluarganya dan
lingkungan sekitar.
Public-Private Mix (PPM) atau Kemitraan Swasta-Pemerintah
Salah satu solusi yang ditawarkan dokter paru dengan begitu besarnya proporsi pasien yang
berobat ke fasilitas non-pemerintah adalah Public Private Mix (PPM). PDPI merupakan yang
pertama menerima International Standard for TB Care (ISTC), suatu standar penanganan TB
yang diakui internasional, dan juga mendorong dunia kedokteran Indonesia untuk menerapkan
prinsip-prinsipnya. PDPI juga merasa kemitraan melalui PPM adalah suatu hal yang penting.
Konsekuensi dari mengikuti standar internasional dalam penanganan TB yang sudah terbukti
keberhasilannya di dunia ini, maka penca

tatan dan penanganan TB yang terstandarisasi
harus dilakukan, termasuk di sektor swasta. Pada awalnya hanya 25% RS swasta di
Indonesia yang terhubung dengan program TB pemerintah. PDPI memulai program PPM di
Indonesia dengan bekerja sama dengan American Thoracic Society (ATS), sebuah
perhimpunan dokter kesehatan pernapasan Amerika Serikat sejak tahun 2010.
Masing-masing wilayah perjuangan PDPI memiliki karakteristik, prestasi, dan masalah
tersendiri. Secara umum dalam program PPM PDPI dilakukan proses rekrutmen, pelatihan
PPM, kunjungan supervisi, rapat koordinasi dengan dinas kesehatan (dinkes), pembuatan
memorandum of understanding (MoU) dengan dinkes, penanganan TB sesuai standar,
notifikasi, analisis indikator, serta monitoring dan evaluasi (monev). Dari kuartal (Q) ke-4 (Q4)
2010 sampai Q2 2016 yang melibatkan 97 dokter swasta, total kasus yang dinotifikasi
berjumlah 5414 di Jakarta, 2063 di Bekasi, dan 2279 di Tangerang. Di Surabaya, program
PPM memiliki kekuatan dalam pemeriksaan dahak bakteriologis dalam penegakan diagnosis
yang mencapai 90-94%. Di Medan, kontribusi PDPI sangat besar dalam pelaporan kasus TB
yang mencapai 23% dari kasus TB yang ternotifikasi di Medan. Di Malang bahkan mencapai

keberhasilan tertinggi dalam pemeriksaan dahak untuk penegakanan diagnosis yang
mencapai 99%.
Para dokter paru di Indonesia akan terus berjuang dalam membantu bangsa dalam
meningkatkan notifikasi kasus TB dalam rangka mencapai cita-cita eliminasi dan eradikasi TB.
PDPI Terus Berkarya untuk Bangsa
Walaupun PPM merupakan komponen penting dalam cita-cita besar memberantas TB, tapi
bukan satu-satunya program dan kontribusi PDPI. PDPI terus mengembangkan dan
mendukung penanganan TB yang lebih baik dari tingkat pusat sampai perifer, pengadaan dan
pengembangan alat dan teknologi baru dalam mendeteksi TB, perlindungan sosial, dan
jaminan kesehatan menyeluruh guna menurunkan kasus TB 10% / tahun. PDPI juga terus
mendukung penelitian serta pengembangan vaksin TB, obat-obat anti-TB baru dan
kombinasinya untuk menangani TB aktif dan TB laten, dan alat-alat pemeriksaan yang akurat
di semua tempat penanganan TB guna mencapai target penurunan kasus 17% / tahun.
PDPI sebagai perhimpunan terdepan yang berkomitmen untuk berperan aktif penanggulan
penyakit respirasi masyarakat Indonesia seperti halnya TB. PDPI akan terus maju bersama
mendukung pemerintah dalam mencapai Indonesia bebas TB 2035.
Akhir kata, PDPI akan terus berjuang bagi kesehatan bangsa. Mari berjuang bersama. TOSS
TB !! Temukan dan obati TB sampai sembuh !!!

Pengurus Pusat
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia








Artikel ini diambil dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
http://www.klikpdpi.com

URL (alamat situs web) artikel ini adalah:
http://www.klikpdpi.com/modules.php?name=News&file=article&sid=8381